Aku seperti baru saja terbangun dari mimpi ketika sepeda motor tiba-tiba terhenti
di sebuah ruang parkir. Sebuah tanda berakhirnya episode singkat perjalanan
yang cukup menguras se isi perasaan cemas karena harus meniti tanjakan dengan
kondisi jalan tak terlalu rata.
Setelah kaki menapak menginjak tanah, mata secara reflek memandangi segala sisi. Terlihat jelas pemandangan tingkat
demi tingkat hijaunya hamparan kebun teh, pohon-pohon berdiri tegak selang-seling
memayungi, serta jemuran biji kopi arabica
di atas kotak-kotak tikar yang menanti dikeringkan matahari.
![]() |
Biji kopi arabica yang dijemur mengisi seisi tikar |
Kami sudah sampai di Dusun Tritis, Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo,
tepatnya telah berada di depan rumah Bapak Miftah. Sebuah tempat yang nantinya
akan menjadi sekolah kami setengah hari ini. Sebuah rumah sederhana nan bersih
di tengah hamparan kebun teh yang hijau berundak-undak.
Hawa sejuk bercampur dingin sudah membungkus. Terang saja, bahwa tanaman teh
memang tumbuh baik di dataran tinggi pada suhu 13-25°C. Senyum ramah dan
sambutan hangat dari Pak Miftah beserta istri menambah berlipat hawa sejuk itu.
Beliau mempersilakan kami segera memasuki ruang tamu. Terlihat beberapa lembar
tikar sudah tergelar rapi. Kami duduk berjejer sepanjang tepi.
Pak Miftah seperti memahami dengan ekspresi kami yang kepanasan sepanjang
jalan kemudian tiba-tiba kedinginan, ya sepertinya kami butuh kehangatan.
Satu nampan kotak penuh berisi beberapa gelas teh panas dibawa oleh istri Pak Miftah keluar dari balik pintu ruang tengah.
“Ini teh asli dari petik kebun lho”, terang singkat beliau sambil menyuguhkan gelas-gelas teh di depan kami.
“Ini teh asli dari petik kebun lho”, terang singkat beliau sambil menyuguhkan gelas-gelas teh di depan kami.
![]() |
Ngeteh sambil belajar :) |
Jejeran gelas yang berisi air teh dengan tutup
warna-warni itu begitu menggoda kami untuk segera mencicipi. Tangan-tangan mulai serempak memisahkan tutup dari bibir gelas.
Uap panas mengepul, aroma teh mulai tercium, endapan gula masih sedikit terlihat tipis di dasar gelas.
"Gleggggh..." seteguk teh mulai membasahi ruang kerongkongan.
Uap panas mengepul, aroma teh mulai tercium, endapan gula masih sedikit terlihat tipis di dasar gelas.
"Gleggggh..." seteguk teh mulai membasahi ruang kerongkongan.
Hmm... rasanya tak seperti rasa teh buatan pabrik yang sering diminum
bapak di rumah.
Rasa teh ini cenderung lebih lembut, terasa ada mint-mint nya dan setelah
tegukan pertama nagih untuk segera disusul oleh tegukan yang ke-sekian kalinya.
Bagaimana dengan warna air tehnya? warnanya tak sepekat teh buatan
pabrik. Tentu saja begitu. Teh ini kan tanpa pewarna? tanpa pengawet juga.
Pak Miftah pamit bergegas keluar sebentar kemudian masuk dengan membawa
satu tangkai daun teh yang Ia petik di depan rumah. Beliau dengan lancarnya
menjelaskan kepada kami mengenai jenis-jenis teh menurut bagian tangkai teh
yang beliau pegang saat itu sebagai berikut:
![]() |
Keterangan gambar bisa dibaca di bawah menurut nomornya :) |
1. Teh Putih
Adalah teh pucuk pilihan yang
dipetik sebelum terkena sinar matahari, kemudian dijemur di bawah kaca sebelum
matahari terbit. Jika diseduh, teh ini akan berwarna putih. Aromanya yang
tercipta berasal dari bulu-bulu lembut pucuk daun teh.
Teh ini memiliki beberapa khasiat
untuk meluruhkan racun-racun di dalam tubuh. Untuk menyeduhnya bisa gunakan
beberapa helai pucuk teh ini, kemudian bisa diseduh dua kali dalam sehari.
Karena memang jenis teh ini sangat
pilihan dan perlakuannya juga istimewa, maka dalam 1 kg teh ini dijual dengan
harga tiga juta rupiah. Biasanya sih, teh jenis satu ini seringnya menjadi
komoditas eksport.
Coba diperhatikan gambar nomor 1,
bisa kah dibayangkan berapa lama memetik dan menjemur pucuk-pucuk teh lembut
itu sampai genap 1 kg?
2. Teh Oolong
Berasal dari daun teh muda tepat
di bawah teh putih, biasanya cara mengeringkannya dengan cara disangrai. Campuran
teh oolong yang disatukan dengan rempah kayu manis dapat berkhasiat untuk
meningkatkan metabolisme tubuh lho. Ayook kita buat dua gelas. Satu untuk aku,
satu lagi untuk aku.
3. Teh Campur
Teh campur berasal dari daun teh
tepat di bawah teh oolong, biasanya digunakan untuk konsumsi sehari-hari
keluarga.
4. Teh Pabrik
Teh yang hanya terdiri dari
batang-batang teh dicampur dengan daun-daun teh campur.
Teh yang barusan kami teguk masuk ke dalam golongan jenis teh ketiga. Paling tidak, sekali-kali kami tidak selalu ngeteh buatannya
pabrik.
Pak Miftah mengantarkan secerek penuh berisi teh lagi untuk mengisi kembali
gelas-gelas kami yang sudah mulai kosong.
Pembahasan kami sampai kepada: "kenapa rasa tehnya tadi seperti ada rasa kopi samar-samar?."
Tanaman teh memang cenderung menyerap dari tumbuhan di sekitarnya.
Hamparan lahan kebun teh seluas 78 hektar itu, dahulu pernah dicoba untuk
ditanami jagung, kemudian kopi, karena dua tanaman itu tak tumbuh baik di lahan
Pak Miftah, maka beliau berganti untuk menanam teh. Tak heran jika rasanya ada
sedikit rasa kopi-kopinya.
Seiring toples-toples dan gelas di depan kami mulai kosong, Pak Miftah
beserta istri mengajak kami bergegas menuju kebun teh yang letaknya tepat di
depan rumah.
![]() |
Barisan kami ketika meniti jalan sempit di antara rerimbunan kebun teh |
Tak peduli matahari sudah tinggi, kami mantap menelusuri
jalan sempit yang berada di sela-sela rimbunnya tanaman teh yang hijau.
Jalan yang kami lalui cenderung naik menjanjak berundak-undak. Sesekali
kami berhenti untuk antre dengan melambatkan langkah.
Sesekali kami pun berhenti untuk menyeka keringat yang mulai menerus.
"Yeayyy kami sudah sampai puncak!."
Mata sedang mendapatkan gilirannya untuk menangkap panorama indah ketika sejauh lepas mata memandang disuguhi oleh pegunungan menoreh yang membentengi.
Mata sedang mendapatkan gilirannya untuk menangkap panorama indah ketika sejauh lepas mata memandang disuguhi oleh pegunungan menoreh yang membentengi.
![]() |
Pemandangan dari puncak kebun teh |
Untuk pembaca, jangan bandingkan suasana kebun teh ini dengan kebun teh Nglinggo ya?
karena meskipun sama-sama kebun teh dan letaknya tak terlalu jauh, kedua tempat ini memiliki atmosfer yang sungguh berbeda.
Di Kebun Teh Tritis, jarang ditemui papan-papan tulisan kekinian yang sering menjadi andalan fokus jepretan kamera anak muda masa kini. Jumlah pengunjung kebun teh ini pun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari alias tak sepenuh sesak seperti di Kebun Teh Nglinggo.
Cocok lah kalau ingin mencari ketenangan dikepung sejuk-sejuk ijo.
Nah bahkan untuk pengunjung yang niat banget ke sini, sebagian mereka ada yang sampai jalan kaki dari bawah dengan jarak yang lumayan jauh menanjak.
Kenapa?
ya, karena letak kebun teh Tritis berada di atas Kebun Teh Nglinggo sebagian besar petugas parkir menyetop kendaraan pengunjung di ujung bawah sana. :'(
![]() |
Dari atas, terlihat rumah Pak Miftah |
Matahari seperti sedang berkompromi untuk mengurangi panasnya.
Dari puncak ini sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan kebun teh yang diselingi beberapa batang pohon pelindung yang
memayungi.
Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengurangi frekuensi kedipan mata,
menghirup oksigen sepuas-puasnya, dan meneguk teh sambil menikmati pisang rebus di tengah kebun teh.
menghirup oksigen sepuas-puasnya, dan meneguk teh sambil menikmati pisang rebus di tengah kebun teh.
![]() |
Tempat berteduh kami ketika sampai atas |
Sebagian dari kami duduk-duduk di gubug yang berdiri di puncak kebun teh. Sebagian lagi ada yang tiduran santai bergelayut di atas hammock berwarna biru, sebagian lagi mengikuti langkah Pak Miftah beserta istri untuk menelusup di balik jalan setapak kebun teh.
![]() |
Mengikuti langkah Pak Miftah |
Akhirnya dengan didampingi Pak Miftah dan Istri, kami memraktekkan betul bagaimana harus memetik daun-daun teh itu. Tangan-tangan mereka lincah memetik daun demi batang bagian tanaman teh seraya menunjukkan kepada kami beberapa daun teh yang kurang sehat.
Cacat pada daun teh |
Terlihat lembaran daun hijau bermotif noda-noda hitam. Kami mengamatinya dengan saksama, itu bukan karena ulat. Sebagian memang karena musim, sebagian lagi karena serangga kecil yang bersembunyi sebelum setengah delapan pagi.
Bisa dibayangkan betapa banyak tantangan untuk merawat lahan kebun teh
seluas itu? tentu saja tidak mudah. Kadang untuk merawat sepetak kecil perasaan
saja sungguh rumit. Ya kan ya?
Tanaman teh juga membutuhkan perawatan seperti makhuk hidup Tuhan yang
lain. Bagaimana harus dipupuk, disiangi rumputnya, pemangkasan dahan-dahannya
agar tumbuh melebar sehingga mempermudah dalam pemetikan daunnya.
Penataan pohon pelindung pun tak kalah pentingnya. Pohon pelindung yang
terlihat tumbuh di antara hamparan kebun teh berfungsi sebagai penyaring dan
pengurang intensitas cahaya matahari, sehingga udara menurun dan kelembaban
relatif udara meningkat.
Karena fungsi pohon pelindung yang relatif penting, pengelolaan pohon
pelindung harus dilakukan secara baik. Kapan harus dibiarkan atau kapan harus
dipangkas.
Untuk perawatan kebun teh, Pak Miftah dibantu oleh beberapa pemetik daun
teh. Jadi tugas pemetik daun teh bukan hanya memetik daun, tetapi juga ikut merawat.
Bagaimana untuk pemasaran daun teh yang dipanen empat kali dalam seminggu
ini?
Daun teh basah jenis ke empat diambil oleh Pabrik teh Pagilaran dengan
harga Rp.1.000,- per kg.
Harga segitu masih dikurangi untuk upah pemetik daun teh Rp.500,- per kg, dan pada
akhirnya pendapatan bersih yang diterima pemilik per 1 kg nya adalah sekitar
Rp.300,- per kg nya.
Wah!
“Meskipun sudah sekarat tapi masih semangat”, lanjut Pak Miftah
sambil tersenyum.
Binar semangat jelas terpancar dari sorot mata beliau.
Semangat beliau untuk terus berbenah, untuk bertahan dengan pengupayaan adalah sebuah infus berarti untuk kami.
Binar semangat jelas terpancar dari sorot mata beliau.
Semangat beliau untuk terus berbenah, untuk bertahan dengan pengupayaan adalah sebuah infus berarti untuk kami.