Kenangan tentang es gosrok dan masa kecilku laiknya teh celup dengan seutas talinya. Tak terpisah, menyambung jadi cerita. Bayangan tentang timbunan gosrokan es batu dalam semangkuk penuh kuah dan potongan buah pernah membuatku menelan ludah, gundah, di tengah siang.
Waktu itu ketika aku mulai pegal dibonceng bapak dari Kota Bantul pulang menuju rumah, tanganku selalu menunjuk-nunjuk suatu warung dengan banner gambar semangkuk bakso dan es gosroknya.
“Yo nanti pulang e beli,” jawab bapak sambil terus mengayuh sepeda.
Waktu itu ketika aku mulai pegal dibonceng bapak dari Kota Bantul pulang menuju rumah, tanganku selalu menunjuk-nunjuk suatu warung dengan banner gambar semangkuk bakso dan es gosroknya.
“Yo nanti pulang e beli,” jawab bapak sambil terus mengayuh sepeda.
Sayangnya, warung yang berada di pojok perempatan Pundong itu kini telah gulung tikar. Tak terdengar lagi bunyi gesekan kotak es batu yang tengah beradu dengan mata pisau tajam di bagian bawahnya tiap kali aku lewat sana.
Ada juga cerita di zaman Sekolah Dasar. Aku pernah menjadi salah satu penunggu setia penjaja es gosrok pelangi. Es gosroknya diramu dengan cara ditangkup oleh dua tutup gelas rapat, kemudian disiram dengan aneka warna sirup seperti pelangi. Rasanya manis. Terkadang kuhisap-hisap warna sirupnya sampai rasanya kembali tawar menghambar. Begitu ceritanya, sehingga aku merasa memiliki kedekatan emosional dan kenangan dengan es gosrok.
Dahulu aku dapat dengan mudah menemukan para penjaja es gosrok. Ada yang keliling di sepanjang jalan dusun, ada pula yang mangkal di pinggir sawah. Sekarang sudah entah lagi. Dunia per-es-an telah berganti menjadi serba kekinian dan tak jauh dari kebutuhan anak milenial.
Beribu bentuk dan rupa: eskrim, gelato, dan kursi-kursinya yang terkurung dalam kaca, menambah rinduku dengan es gosrok semakin mendalam.
Keinginanku untuk mencicipi es gosrok pernah
kuutarakan kepada pria yang (dulu) masih menjadi calon suami dengan ekspresi sangat
ingin. Dia mengantarkanku berjalan kaki menyusuri kawasan Kotabaru Yogyakarta
dan selalu dengan hasil yang zonk
alias tidak buka.
“Hmm, perasaan permintaanmu sederhana ya? pingin es gosrok, tapi kok ya susah terwujud tutup terus.” Keluhnya menanggapi kenyataan. Sampai suatu saat, dia memiliki alat untuk membuat es gosrok dan menyajikan semangkuk dengan siraman sirup untukku :’)
“Hmm, perasaan permintaanmu sederhana ya? pingin es gosrok, tapi kok ya susah terwujud tutup terus.” Keluhnya menanggapi kenyataan. Sampai suatu saat, dia memiliki alat untuk membuat es gosrok dan menyajikan semangkuk dengan siraman sirup untukku :’)
Waktu terus berubah, tempat tinggalku juga begitu.
Tinggal bersama suami di kawasan utara Stasiun Tugu Yogyakarta membuatku lebih
mudah melanjutkan pencarian tentang es gosrok. Mungkin telinganya pun mulai
gatal ketika aku sering menyebut-nyebut nama es gosrok di depannya. Hehehe.
Daripada menyebut nama-nama mantan kan ya?
Di tengah kemacetan menjelang libur natal dan tahun
baru itu, aku bergegas keliling sendirian dengan sepeda. Menembus deretan mobil
berbaris saling tersambung dengan klaksonnya yang berisik. Aku berniat
mengademkan siang ini dengan es gosrok itu. Semoga hari ini aku berjodoh
dengannya.
Es Jadul Kotabaru
Tujuan pertama adalah Es Jadul di kawasan Kotabaru
Yogyakarta. Siang itu tempat yang sering membuatku kecelik ini akhirnya buka juga. Dengan segera, kupesan segelas es
gosrok kepada bapak penjulanya. “Pak pesan segelas saja, diminum sini ya?”
beliau ramah tersenyum sambil sigap membuatkan segelas es gosrok tanpa menunggu
bermenit-menit.
Memang tak lama karena penjulanya telah menampung
campuran gosrokan es batu dengan uborampenya
dalam sebuah wadah besar. Nanti jika ada pembeli datang, tinggal menuangnya
dalam gelas-gelas.
Pembeli bisa memesan es gosrok saja tanpa roti, dengan harga 3.5k, atau jika beserta rotinya dengan harga 5.5k. Harga yang ditawarkan masih terjangkau sekali di kalangan pelajar sampai konglomerat kan?
Pembeli bisa memesan es gosrok saja tanpa roti, dengan harga 3.5k, atau jika beserta rotinya dengan harga 5.5k. Harga yang ditawarkan masih terjangkau sekali di kalangan pelajar sampai konglomerat kan?
Jika melihat komposisi es gosrok ini: santan, kelapa muda dan tape, sangat cocok untuk diberi suwir demi suwir roti. Kata Pak Sutar, dulu sih menggunakan roti semir. Namun karena semakin ke sini roti semir susah ditemukan, beliau menggunakan roti kemasan itu.
Hmmm tegukan pertama dari segelas es gosrok ini lumayan membahagiakan. Rasanya cocok diminum di pinggir macetnya Jogja. Untuk pembaca yang berencana mengajak gebetan membeli helm di kawasan Kotabaru, jangan lupa untuk diajak singgah ke sini.
Hmmm tegukan pertama dari segelas es gosrok ini lumayan membahagiakan. Rasanya cocok diminum di pinggir macetnya Jogja. Untuk pembaca yang berencana mengajak gebetan membeli helm di kawasan Kotabaru, jangan lupa untuk diajak singgah ke sini.
Es Gosrok Pak Lantip
Melanjutkan perjalanan ke arah selatan, tepatnya di
Jalan Nyi.Ahmad Dahlan, Notoprajan, Ngampilan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sini juga
terdapat satu penjual es gosrok legendaris di sebelah barat jalan.
Warung es gosrok ini memiliki seribu nama. Ketika aku menanyakannya kepada sang penjual pun beliau malah mendadak bingung. Ada yang menyebut Es Jadul, Es Legendaris, Es Pak Ipung, Es Pak Lantip, atau es Buah Gerjen karena berada di Jalan Gerjen (Nyi.Ahmad Dahlan).
Warung es gosrok ini memiliki seribu nama. Ketika aku menanyakannya kepada sang penjual pun beliau malah mendadak bingung. Ada yang menyebut Es Jadul, Es Legendaris, Es Pak Ipung, Es Pak Lantip, atau es Buah Gerjen karena berada di Jalan Gerjen (Nyi.Ahmad Dahlan).
Pelopor awal es gosrok ini adalah Pak Ipung, kemudian
dilanjut oleh generasi penerusnya. Bagi penikmat es gosrok dengan cita rasa jadul, es gosrok yang berjualan sejak tahun 1970n ini bisa dijadikan alternatif.
Pembeli bisa memilih hendak menggunakan kuah sirup gula jawa ataupun gula
pasir.
Jika pembeli penasaran ada apa di bawah gunungan
gosrokan es batu, coba mulai bongkar saja es gosroknya. Di sana terdapat harta
karun yang tak terlihat. Ada cincau hitam kotak, kolang-kaling, sawo, alpukat,
tape singkong, juga santan dengan kelapa muda.
Warung es gosrok ini berada di sebelah barat jalan tanpa menggunakan bangku-bangku ataupun kursi. Pembeli dapat duduk sambil
menikmati es gosrok di emperan rumah tua dengan tegel ubin yang masih klasik menghadap ke jalan.
Sambil menikmati es gosrok, pembeli dapat menyaksikan
lalu-lalang andong-andong yang mengangkut wisatawan menuju keraton ataupun juga
yang sekadar keliling Jogja. Bunyi tik-tak-tik-tok
kaki kuda tak kerasa menjadi pengiring semangkuk es gosrok menjadi kosong kembali.
Cukup 8k, suasana mahal ini tersaji di salah satu sudut Yogyakarta.
Es Gosrok PK
Dari namanya sebenarnya tak asing terdengar di
telinga meskipun aku belum pernah sekalipun singgah ke warungnya. Cerita dari
suami yang hendak mengantar ke sini tak jadi-jadi pun semakin membuatku
gregetan pingin segera ke sini meskipun seorang diri.
Di suatu siang yang cukup terik, dengan berjalan kaki
di sepanjang Jalan Magelang menuju Pasar Kranggan, akhirnya aku menemukan
warung es ini di pojokan dekat Indomaret. Ternyata warung es buah gosrok PK tak
hanya menjual es gosrok, namun juga bakso. Waaaahh… ini persis dengan
kenanganku sama bapak waktu kecil kan? semangkuk es gosrok dan bakso. Dengan
cepat, kupesan masing-masing satu porsi.
Siang itu, pembeli cukup ramai. Gerobak es siang itu
tak terlihat karena dijejali pembeli. Tenda biru dan tatanan kursi meja
sepanjang barat dan timur gerobak ternyata tak muat menampung antusias mereka.
Aku memilih duduk di seberang jalan dengan tikar
tergelar dan himpitan pembeli lainnya. Tak perlu menunggu lama, pesananku sudah
tersaji di depanku. Dengan tersenyum-senyum, aku mulai suapan pertama.
Aku termasuk dalam manusia yang tak terlalu suka
santan. Bagiku gosrokan es batu dengan lumuran susu cokelat sangat cukup sebagai
kuah. Di bawahnya, terdapat potongan-potongan buah yang kusukaa semua. Penjualnya
memberi buahnya tanpa pelit-pelit.
Ada sawo satu buah yang diiris-iris melintang,
potongan nangka, juga kelapa muda yang begitu pas dagingnya. Aku tak ingin
semangkuk ini cepat habis. Bayangan masa kecilku kembali tergambar. Semangkuk
bakso dengan tetelan daging sapi dan bakso kering menambah lengkap bongkar
kenangan ini. Aku, mmmm aku masuk team es buah gosrok PK.
Es gosrok, es serut, apapun istilahnya, akan selalu
mendapatkan tempat dalam kenangan. Tentangnya, aku pernah dibuat begitu bahagia
dengan sederhana. Di waktu-waktu yang akan datang semoga aku diizinkan untuk
terus menemunya dan menikmatinya mengobati gersangnya siang. Tak masalah dengan
siapa ataupun seorang diri, yang pasti setiap suapnya akan teriring dengan
senyuman.
Bagi pembaca yang sering merasa gerah jiwa raga, atau
atinya gampang panas jika melihat dia dengan yang lain, coba ademkan dengan es
gosrok. Mungkin sih bukan obat permanen, tapi paling tidak bisa mengademkan
yang tak bisa dipadamkan oleh pemadam kebakaran.
***
Tulisan ini, akan terus dikembangkan seiring perjalanan penulis menemukan es gosrok-es gosrok yang lainnya.
Apa pembaca punya referensi
lain tentang per-es gosrokan? Sila aku dikasih info :)