Apa sih parameter yang digunakan untuk mengukur kadar
kurang atau cukupnya kebahagiaan pada masa kecil?
Wuuu “masa kecil kurang bahagia”.
Anak-anak yang lahir sekitar tahun-90’an seringkali
mengaku kalau pada zaman itu lah anak kecil mendapatkan “dunia anak-anak” yang
sepenuhnya. Entah apa ini hanya berlaku di desa, atau di kota juga.
Lha pada zaman itu, kala saya masih kanak-kanak dan
hidup di desa, dunia bermain sungguh sangat luasnya. Apa pun bisa digunakan
sebagai bahan permainan.
Saya ingat betul ketika begitu bersemangat
mengiris-iris segala dedaunan untuk dijadikan bakmi-bakmian, jantung bunga
pisang untuk dijadikan hati *eh, tanah dicampur air buat bubur-buburan, dan
jualan es-es an menggunakan pewarna daun jati, kulit manggis, ah segala macam.
Jangan lupa untuk membuat uang-uangan dari daun bisa,
kertas bisa, sesuai kesepakatan saja. Oh ya, warungnya nantinya dibuatkan rumah
dari gedebog pisang sebagai kerangka, kemudian atasnya dikasih atap karung
beras, bisa juga daun pisang. Membangun rumah-rumahannya dengan gotong-royong dibantu
teman dong. Betapa nilai-nilai interaksi, sosialisasi, kerja sama, dan
kreativitas sudah terkandung dalam permainan itu.
Biasanya kalau sudah asyik bermain pasar-pasaran dan
rumah-rumahan, waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa sudah sore saja,
kemudian biasanya dicari oleh ibu, diingatkan untuk cepat-cepat mandi terus berangkat TPA di masjid.
Itu baru cerita tentang main pasar-pasaran dan
rumah-rumahan. Belum lagi jika menghitung jumlah permainan yang bisa dimainkan
kala itu, wah banyak. Ada jamuran, ular naga, kasti, lompat tali, gobak sodor,
petak umpet, dakon, bekelan, juga jlog-jlig (tanah digaris kotak-kotak kemudian
dimainkan dengan ingkling dan melempar pecahan genting).
Saya pernah memiliki kenangan tak terlupakan ketika bermain
petak umpet. Entah karena konspirasi atau apa, saya yang saat itu termasuk
dalam golongan usia paling muda dalam kelompok itu sering dibuat terus menerus
“jaga”. Rasa-rasanya kok tidak pernah kebagian ikutan ngumpetin perasaan. Kan
pingin ya?
Lamaaa sekali “jaga”, terus akhirnya nangis. Karena
saat itu belum ada yang nge-”cuppp cup cupp”. Biasanya terus pulang ke rumah
terus tidur karena kesel.
Tradisinya sih memang yang senior-senior itu suka
sekali ngerjain yang lebih kecil. Semacam dijadikan hiburan untuk
ketawa-ketiwi, puas ngerjain kalau sampai nangis.
Makanya, paling enak main sama teman sebaya. Pernah bareng-bareng mencari ciplukan di sawah, mencari buah duwet di pinggir sungai, menjadi jamaah penunggu buah mangganya tetangga jatuh, main gobak sodor
di malam bulan purnama, atau cublak-cublak suweng.
Yaaah, saya pernah mengalaminya. Masa itu, ketika setiap hari adalah waktu untuk bermain, dan belajar adalah selingan ketika bosan bermain. Ahahaha.
Yaaah, saya pernah mengalaminya. Masa itu, ketika setiap hari adalah waktu untuk bermain, dan belajar adalah selingan ketika bosan bermain. Ahahaha.
Segala hal tentang permainan masa kecil saya, tentu
hampir sudah tidak mungkin saya ulang. Jika ingin mengulang, sepertinya sudah
cukup susah mencari partner bermain yang juga paham tentang cara mainnya. Pun
rasanya, pasti tak bisa selepas dulu. Tidak lagi sama “tanpa beban”, sebuah
perasaan yang hanya dipunya oleh anak-anak.
Soal jajanan, hmm es gosrok ditangkup dua tutup gelas
kemudian dikasih sirup warna-warni itu pernah menjadi kesukaan saya. Meskipun,
kalau diisep-isep lama-lama warna sirupnya ilang, tinggal putih tak terasa. Eh
es itu sih masih bisa saya jumpai di Pasar Kangen Jogja setiap setahun sekali,
tapi antreannya nggak nguatin. Mending saya melipir
saja.
Selain itu, biarlah gambar di bawah ini yang berbicara:
Saya teringat, dulu kalau diminta Ibu beliin terasi,
tempe, shampo, atau apa lah di warung, kadang kembaliannya saya belikan jajanan
satu atau dua buah. Alasannya: buat ganti capek.
Tiba-tiba, bayang-bayang tentang jajanan masa itu
kembali berwujud di depan mata. Saya kira nostalgia 20 tahunan silam itu
hanyalah berupa rekaman kenangan yang tersimpan rapi, nyatanya bisa kembali nyata
beberapa.
Siang itu, 24 November 2018 saya sengaja mengajak
suami untuk mengikuti peta alamat @mbokjajan.
Memang tak terlalu jauh dari
rumah, tepatnya di Jalan Ireda no. 181A. Kalau dari arah utara: Jogjatronik ke
selatan lurus mentog sampai Pojok Beteng wetan, setelah itu belok ke kiri.
Lurus saja sampai menemukan Apotek Panji, belok kiri masuk gapura merah. Lokasi
@mbokjajan berada di kanan jalan.
Setelah sepeda motor terparkir di depan, sepintas
mata memandang tempat ini sepi pengunjung mau pun pembeli. Saya disusul oleh suami,
mencoba masuk ke dalam. Pemandangan pertama ketika saya masuk membuat mata
cukup berbinar ya?
Segala sesuatu yang mengiringi tumbuh saya pada zaman
itu, seakan hidup lagi. Saya kembali tersadar dari rasa takjub, kemudian menyapa
mbak-mbak yang menjaga kasir.
“Mbak, ada krip-krip?”
“Oh ada mbak, mau berapa renceng?”
“Ah sebentar mbak, saya boleh mengambil foto dan
lihat-lihat dulu?”
“Boleh, silakan…”
Saya bersemangat, tawaf mengitari tempat yang
sesungguhnya tidak begitu luas itu. Namun, barang-barang yang ditata sangat
rapi.
Menjelajahinya, membuat senyum kembali terkembang. Segala
macam mainan saya kala itu: bekel, balon yang ditiup-tiup dengan
sedotan kecil, parasut, kitiran, kaset, berbagai macam.
Dalam deretan snack, ada beberapa jenis yang memang
sudah lama tidak saya lihat. Padahal dulu, rentengan snack warna-warni itu begitu
meriah digantung di warungnya tetangga.
Melihat Permen Yosan, mengingatkan kegigihan saya mengoleksi huruf-huruf yang tertera di dalam bungkus permen karet itu.
Cita-cita mulia untuk mengumpulkan tulisan Y-O-S-A-N,
berharap mendapatkan hadiah sepeda sungguh seperti pungguk merindukan bulan.
Huruf N-nya tidak juga ketemu sampai saya dewasa. Misteri yang entah belum
terpecahkan sampai saat ini.
Beberapa snack, jajanan masa kecil yang masih bisa
ditemukan beberapa. Seperti: Hot-Hot Pop, Davos, Choki-choki, Nyam-nyam, Gulai
Ayam. Beberapa di antaranya sudah menghilang tanpa kabar kaya dia.
Di @mbokjajan ini saya bisa kembali mengicip krip-krip, sukiyaki, es gabus, es lilin kacang ijo yang sekian lama tak saya temui lagi. Sayangnya, saya tidak menemukan anak mas dan anak mami. Dua buah
snack kesukaan yang memang sudah tak diproduksi lagi.
Mampir sebentar di @mbokjajan siang itu mampu membuat
saya tersenyum sambil memutar waktu ke belakang. Eh kenangan maksudnya.
Kenangan saya di masa kanak-kanak beberapa puluh tahun yang telah lalu.
Di dalam ruang sederhananya, saya semacam diajak
masuk dalam lorong waktunya Doraemon. Melihat, merasa, memegang, kenangan masa
itu yang kembali di depan mata.
Sekarang kalau kangen, tidak perlu menunggu sesaknya
Pasar Kangen yang datang setiap setahun sekali. Sekarang kalau kangen, tinggal
mampir ke sana kalau kebetulan lewat.
Jujur saja, saya memang termasuk yang antusias jika
bercerita tentang nostalgia. Kala waktu jajan di tempat penjual batagor langganan
ketika SMA, Soto Rembang di Karangmalang UNY, atau sekadar memandangi setiap
tempat yang menyimpan banyak cerita itu.
Seusainya keluar dari @mbokjajan, sepertinya sisa nostalgia itu masih erat kubawa pulang. Sambil menikmati setiap cemilan yang telah dibungkus, saya kembali bersyukur memiliki kenangan indah masa kecil yang tidak kurang-kurang. Masa kecilku takhanya sebatas layar sempit gawai yang membuat pegal mata.
***
Kalau pembaca termasuk angkatan berapa? jangan-jangan sudah taklagi mengenali potret jajanan dan mainan di atas.
Sementara "reuni" lagi musim, mari kita bernostalgia saja! Bagaimana dengan cerita masa kanak-kanakmu yang sekian puluh tahun telah berlalu itu?
Informasi untuk pembaca:
(Ini bukan tulisan sponsor) hehe, tulisan suka-suka saja. Mohon maaf beberapa foto terpaksa blurr tetap dipajang, mengingat pencahayaan tempat kurang dan yang moto adalah amatiran.
Instagram: @mbokjajan (surganya jajanan dan mainan
zaman baheulak).
Alamat: Jalan Ireda no. 181A, Yogyakarta, 55152
Buka: Setiap hari, pukul: 09.00-21.00