Suara hentakan kaki kuda andong-andong Malioboro
telah tergantikan suara jangkrik. Sunyi.
Hanya terdengar obrolan seru beberapa teman yang
masih terjaga di ruang tamu.
Malam ini kami menginap di Pendopo Bejo, salah satu
tempat yang disediakan oleh Mas Arif untuk kami melepas kantuk yang tertahan
sepanjang liukan perjalanan tadi.
Posisi bangunannya yang lumayan tinggi dibandingkan
dengan rumah-rumah sekitarnya, membuat udara dingin menyelinap tanpa salam
lewat tiga jendela yang masih terbuka.
Besok pagi kami butuh tenaga lumayan banyak yang
harus dipersiapkan untuk offroad jip sehingga mata tersugesti untuk cepat
terpejam.
Benar.
Azan subuh seperti berkumandang lebih cepat di sini.
Rasa-rasanya baru sedetik memejamkan mata tapi sudah pagi saja. Di waktu subuh sudah
kuniatkan mandi. Iya, meskipun nantinya akan kotor terlumuri lumpur, tapi sudah
kuniatkan begitu. Semoga nantinya akan semakin sempurna mencicipi pengalaman
pertama offroad jip dengan kondisi segar.
Rasanya juga kurang lengkap jika sudah bangun sepagi
itu tapi belum menikmati suasana pagi Desa Bejiharjo. Kami memutuskan untuk menyusuri
jalanan kampung di samping penginapan.
Karakter Desa Bejiharjo yang dialiri beberapa sungai bawah tanah dengan kondisi air yang melimpah dimanfaatkan penduduk sekitar untuk menggunakan aliran jernih parit kecil sebagai tempat mencuci. Terlihat beberapa anak bebas jalan-jalan menikmati sarapan bersama ibunya, petani yang sepagi itu sudah menyuburkan padinya, dan pemandangan barisan pohon kelapa yang menjaga setiap pematang sawah.
Setiap bertemu warga yang kebetulan berpapasan,
mereka menyapa kami dengan senyuman ramah. Kondisi warga khas perdesaan yang
masih terjaga meskipun digempur ribuan wisatawan setiap bulannya.
Semoga begitu, tetap terjaga.
Begini kira-kira potret hiruk-pikuk Bejiharjo ketika musim liburan tiba:
A post shared by INSTAGRAM JOGJAKU (@jogjaku) on
Oh ya, jika kita ke Desa Wisata Bejiharjo, tak melulu harus Cave Tubing Gua Pindul.
Kita tidak harus memaksakan suatu liburan dengan menyiksa diri seperti itu. Pembaca boleh mampir ke sekertariat Dewa Bejo atau buka
info di websitenya di:
Ternyata masih banyak kok alternatif lain yang
ditawarkan oleh Dewa Bejo untuk menikmati liburanmu dengan cara yang tak kalah menyenangkan.
Pernahkah pembaca mencoba Body Rafting Oya? atau
menyusuri gelapnya lorong Gua Gelatik yang sunyi?
![]() |
Mengendap memandangi tidur pulasnya kelelawar di lorong Gua Gelatik |
Aku pernah mencobanya tahun lalu, dan masih dengan
Dewa Bejo.
Jika pembaca pernah beberapa kali melewati daerah
Bejiharjo, di sana-sini banyak calo yang menawarkan iming-iming paket wisata
Pindul dengan harga yang sangat murah. Sepertinya sih begitu. Tetapi bagaimana
dengan fasilitas, pemandu yang ramah juga berwawasan, jaminan keamanan, dan asuransi? mungkin kita sebagai pengunjung harus mulai memikirkannya.
***
Pagi itu kami berencana untuk mencicipi paket wisata offroad
yang lumayan menjadi primadona baru di Pindul.
Tak sabar.
Kali ini adalah pengalaman pertamaku menjajal offroad dengan armada Jimny.
Kali ini adalah pengalaman pertamaku menjajal offroad dengan armada Jimny.
Kami sudah siap, sekali lagi tak sabar.
Jemputan jip sudah berjejer rapi di depan sekertariat Dewa Bejo. Seusai kami sarapan, tidak butuh waktu lama tiga jip warna putih, hijau, dan merah sudah penuh berpenghuni kami bersembilan.
Bisa diabsen satu-satu siapa tau ada yang jom** ya?
Mas Sitam, Hannif, Aku menjadi penumpang jip putih. Mas Rifqy, Mbak Rizka, Mas Aji bertiga menjadi penghuni jip hijau, kemudian jip merah dihuni oleh Mas Alid, Aya dan Mas Halim. Lengkap sudah.
Jemputan jip sudah berjejer rapi di depan sekertariat Dewa Bejo. Seusai kami sarapan, tidak butuh waktu lama tiga jip warna putih, hijau, dan merah sudah penuh berpenghuni kami bersembilan.
Bisa diabsen satu-satu siapa tau ada yang jom** ya?
Mas Sitam, Hannif, Aku menjadi penumpang jip putih. Mas Rifqy, Mbak Rizka, Mas Aji bertiga menjadi penghuni jip hijau, kemudian jip merah dihuni oleh Mas Alid, Aya dan Mas Halim. Lengkap sudah.
Petualangan akan segera dimulai!
Jip melaju menjauhi sekretariat menyusuri jalanan aspal.
Tak lama kemudian masuk lebih dalam melewati jalan yang lebih sempit dengan dua
cor bloknya sebelah kanan dan kiri.
Aku masih meraba dan melukis bayangan akan seperti
apa nanti.
Kulirik driver
jipnya, Mas Arif dengan lihai mengemudikan jip dengan sesekali menyapa warga.
Jip hijau dengan penumpang: Mas Rifqy, Mbak Rizqa dan Mas Aji, ketika melewati jalan desa. Dokumentasi oleh: Insanwisata |
Perjalanan offroad kami memang terlebih dulu melewati tiga desa di Kecamatan Bejiharjo, yaitu: Desa Bulu, Gelaran I, dan Karang Lor. Sesungguhnya aku agak heran karena sepertinya kehadiran kami dengan suara riuh tawa dan berisik melewati jalan desa yang sempit sama sekali tak mengusik mereka.
Bahkan setiap kami berpapasan dengan warga di setiap
pinggir jalan maupun tikungan, mereka selalu menghadiahkan senyuman hangatnya.
Bahagia. Ini baru awal.
Suasana adem ayem ini mulai bergeser oleh medan yang
turun, kemudian jalannya sudah berganti.
Kali ini dengan pemandangan kebun warga, hutan jati
dengan jalanan yang tak lagi rata.
Batu gamping tak beraturan dari tengah sampai tepian jalanan. Gronjalannya sungguh memainkan guncangan yang bervariasi. Yahh semakin lengkap dengan tambahan kondisi jalan yang menurun curam, kemudian meliuk, menanjak dengan ketersediaan jalanan datar sangat minim.
Dahan pohon-pohon yang melengkung di pinggir jalan seperti mengucapkan “selamat datang” sambil sesekali melibas pipiku atau juga tanganku. Rasanya sedikit panas, tapi sekilas saja. Fokus benar-benar terpecah mendengar suara riuh teriakan teman dari penghuni jip depan. Sepertinya penumpang perempuannya dua saja tapi teriakan kaum adam lebih lantang terdengar.
Dahan pohon-pohon yang melengkung di pinggir jalan seperti mengucapkan “selamat datang” sambil sesekali melibas pipiku atau juga tanganku. Rasanya sedikit panas, tapi sekilas saja. Fokus benar-benar terpecah mendengar suara riuh teriakan teman dari penghuni jip depan. Sepertinya penumpang perempuannya dua saja tapi teriakan kaum adam lebih lantang terdengar.
Menumpang jip dengan posisi medan seperti ini
terkadang sungguh menguras emosi. Melibas turunan, tanjakan, dan rintangan
bebatuan. Lumpur tak terelakkan lagi sudah menjadi motif alami kaos, wajah, dan
tangan kami.
Di depan sana, sudah ada genangan air berlumpur cukup
luas. Satu per satu jip melewatinya dengan cipratan lumpur cair cokelat di mana-mana. Seruuuuu
dan spontan menghasilkan teriak demi teriakan bersahutan.
Jip miring melindas jalanan lumpur. Nah no pict: hoax, siapa yang mangapnya paling lebar *eh. Dokumentasi oleh: Insanwisata |
Ya, jangan ragu untuk mengekspresikan perasaanmu: tertawa, was-was, teriak sekencangnya, menunduk, kejedug, bahkan sampai harus jongkok menahan tumpuan. Di sini letak serunya.
Tanganku tetap berpegang erat kepada batang besi jip
sebelah kiri. Ternyata, jip mengulang putaran sekali. Rasanya aku lebih siap
karena telah mengenal medan yang sudah dilewati sebelumnya. Dugaanku salah.
Ah ternyataa, Mas Arif lebih memilih jalan yang berbeda dengan medan yang lebih ekstrem.
Ah ternyataa, Mas Arif lebih memilih jalan yang berbeda dengan medan yang lebih ekstrem.
Terkadang jip bisa miring sekian derajat membuat
tubuh kami mengikuti gravitasi. Kali ini lumpur yang loncat sana loncat sini
berbentuk kotak-kotak hasil cetakan batikan ban jip. Teriakan Hannif di
sampingku ternyata tak kalah heboh, padahal ini bukan yang pertama baginya. Mas Sitam tak terdengar suaranya tersekat ruang di depan.
Seusai menerobos jalan berlumpur di tengah rimbunnya
pohon bambu, jip kami sudah sampai di tepian Sungai Oya.
“Duh”, posisi jip harus turun dari tanggul sungai
dengan tatanan batu kapur. Tubuh kami terdorong ke depan, Jip meluncur melawan
arus Sungai Oya. Cipratan lumpur berganti guyuran air dari berbagai sisi. Kami
berteriak kegirangan tak secemas tadi.
Begitu emosi yang berhasil dimainkan. Beberapa kali
terguncang kemudian tertawa bahagia. Jenis guncangan ini tentu berbeda dengan guncangan
batin ketika harus menerima kenyataan bahwa dia sudah selamanya tak bisa dimiliki. Beda ya, beda.
Karena jenis guncangan ini ada lega dibalik teriakan, ada cemas yang lepas setelah medan berhasil terlewati.
Karena jenis guncangan ini ada lega dibalik teriakan, ada cemas yang lepas setelah medan berhasil terlewati.
Pertemuan tiga jip di tepian Sungai Oya. Dokumentasi oleh: Insanwisata. |
Rute 12 kilometer selama dua jam sungguh tak terasa. Pengalaman pertama offroad bersama orang-orang istimewa serunya.
Bejiharjo,
sungguh tak cukup disinggahi setengah hari.
Informasi pembaca:
Untuk offroad jip, pengunjung cukup merogoh Rp.400.000,- per armada jip yang bisa ditumpangi 3 orang per jip. Atau untuk lebih lengkap info bisa didapat:
Dewa Bejo beralamat di Sekretariat Dewabejo Goa Pindul Gelaran 1, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul.
Website: www.desawisatabejiharjo.net
Twitter: @goapindul_GK
Instagram: @goapindul
Facebook: Cave Tubing Pindul
Telephone: 085741973511 (Arif)
* Cerita ini merupakan oleh-oleh dari keseruan rangkaian acara "Explore Desa Wisata Jogja" yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi DIY, pada tanggal: 24 s.d 26 Februari 2017.